Memahami work breakdown structure (WBS) dan lingkup pekerjaan adalah langkah pertama dalam menyusun rencana proyek. Pembahasan yang akan saya lakukan dalam beberapa artikel secara bersambung, saya khususkan untuk proyek konstruksi, lebih khusus lagi proyek konstruksi mekanikal Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hal ini hanya karena pengalaman saya selama 10 tahun, hampir semuanya dalam proyek mechanical erection PLTU.

Dalam pembangunan PLTU pemilik (owner) proyek, dengan didampingi konsultan, menyerahkan pekerjaan pembangunan kepada kontraktor EPC (engineering, procurement & construction). Kontraktor EPC ini melaksanakan seluruh pekerjaan design engineering, pengadaan (procurement) material dan alat-alat PLTU, dan pemasangannya hingga pembangkit bersangkutan siap beroperasi menghasilkan listrik.

Agar pembangkit mampu beroperasi sesuai kebutuhan pemilik proyek, maka kontraktor EPC harus membuat desain PLTU sesuai dengan parameter input dan parameter output yang telah ditentukan pemilik.

Proyek pembangunan PLTU biasanya dibagi menjadi beberapa paket. Setiap paket diberikan kepada satu kontraktor EPC. Sebagai contoh, dalam proyek PLTU Banjarmasin (Asam Asam) unit-1 & 2 berkapasitas 2×65 MW terdapat 6 paket proyek, yaitu =

- Paket 1A : Site Preparation
- Paket 1B : Civil Works
- Paket 2A : Steam Generators
- Paket 2B : Coal & Ash Handling
- Paket 3 : Turbine Generator & Balance of Plant
- Paket 4 : Electrical & Control

Semakin besar ukuran proyek, biasanya semakin banyak pembagian paketnya. Jumlah paket proyek kadangkala juga tergantung dari sumber pendanaan proyek.

Sering sekali kontrak EPC diberikan kepada kontraktor asing, terutama untuk pekerjaan mekanikal, elektrikal dan kontrol. Kemudian kontraktor asing tersebut menggandeng perusahaan lokal sebagai sub kontraktor atau mitra joint operation, untuk menangani pekerjaan construction/installation.

Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam perencanaan proyek mechanical erection PLTU adalah =

- Rencana organisasi
- Rencana fasilitas proyek (temporary facilities)
- Project schedule dan progress planing
- Manpower loading
- Equipment loading
- Anggaran proyek (project budget)
- Prosedur heavy-lifting
- Quality Plan
- Safety Plan

Untuk dapat membuat rencana proyek dengan baik, mutlak diperlukan pemahaman terhadap lingkup pekerjaan (scope of work) yang ada di dalam kontrak. Oleh karena itu sebelum mulai membuat rencana kita harus mempelajari dokumen kontrak dengan seksama.

Dalam manajemen proyek, kita mengenal istilah Work Breakdown Structure (WBS). WBS adalah diagram pohon yang dipakai sebagai alat bantu untuk memecah pekerjaan besar menjadi sub-sub pekerjaan yang lebih kecil. Dalam Work Breakdown Structure dikenal istilah WBS level 1, level 2, level 3, dst. Semakin dalam level WBS, semakin detail rincian pekerjaannya.

WBS system diciptakan untuk mempermudah proses penyusunan rencana proyek. Setiap detail pekerjaan dibuatkan planingnya masing-masing, kemudian detail planing tersebut dikonsolidasi menjadi planing untuk keseluruhan proyek. Jadi penyusunan rencana proyek pada umumnya dilakukan secara bottom up, dimulai dari yang detail (bottom) kemudian digabungkan menjadi overall project planing.

Berikut adalah contoh Work Breakdown Structure untuk sebuah proyek pembangunan PLTU :

WBS sangat bermanfaat pada saat menyusun jadwal proyek, membuat progress planing, manpower planing dan equipment loading. Pembahasan lebih detail tentang hal ini akan saya lakukan dalaam artikel tentang cara membuat jadwal dan menghitung progres proyek.

 

Pembakaran batu bara di dalam furnace meninggalkan sisa berupa abu batu bara. Abu tersebut menempel pada elemen-elemen superheater dan permukaan water wall panel. Lapisan abu yang semakin tebal akan mengurangi efisiensi pembakaran.

Oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan secara rutin dengan mempergunakan alat yang bernama sootblower. Pembersihan elemen-elemen superheaters mempergunakan steam sootblower, sedangkan water sootblower dipergunakan untuk membersihkan water wall panel.

Coal and Ash Handling adalah bagian tak terpisahkan dari PLTU. Peralatan paling dominan dari coal handling system ini adalah belt conveyor. Conveyor tersebut berfungsi untuk mengangkut batu bara dari unloader port ke coal storage yard, dan dari storage yard ke boiler house.

Sementara dalam ash handling system, pengangkutan debu batu bara dilakukan melalui sistem perpipaan dibantu dengan udara bertekanan. Bisa juga dilakukan secara manual menggunakan dump truck.

System terakhir dari PLTU yang akan saya tulis adalah Balance of Plant. Balance of Plant ini terdiri dari beberapa sub sistem, di mana yang paling penting adalah =

-  Condenser system

-  Feedwater system

-  Water Treatment Plant

-  Cooling Tower

Setelah selesai memutar turbine, uap dibuang ke condenser yang posisinya tepat berada di bawah LP Turbine. Di dalam condenser uap tersebut diubah menjadi air untuk dipompakan kembali ke dalam boiler.

Condenser memerlukan air pendingin untk mengubah uap menjadi air. Beberapa PLTU memanfaatkan air laut sebagai pendingin condenser, sementara PLTU yang lain mempergunakan cooling tower untuk mendinginkan air condenser yang diputar terus menerus dalam sistem tertutup (closed loop).

Condenser system terdiri dari beberapa peralatan utama, yaitu condenser itu sendiri, condenser tube cleaning system, condenser vaccum system dan condensate pump. Condenser vaccum system berfungsi untuk menjaga agar tekanan di dalam condenser selalu lebih kecil dari tekanan atmosfer. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan plant efficiency dari PLTU.

Water Treatment plant berfungsi untuk memproduksi semua kebutuhan air bagi operasional PLTU. Pada dasarnya ada 2 jenis air yang dibutuhkan PLTU. Yang pertama adalah demineralized water (demin water) untuk mensuplai boiler dalam memproduksi uap penggerak turbin. Disebut demineralized water karena air tersebut sudah dihilangkan kandungan mineralnya.

Yang kedua adalah raw water yang diperlukan untuk pendingin (cooling water) bagi mesin-mesin PLTU dan untuk dipergunakan sebagai service water.

Secara umum water treatment system PLTU terdiri dari desalination plant untuk memproses air laut atau air payau menjadi raw water, demineralized plant untuk memproduksi demin water dan tanki-tanki atau kolam penyimpanan air.

Sebagaimana saya tulis di muka, uap yang meninggalkan turbin masuk ke condenser untuk diubah kembali menjadi air. Air tersebut dipompa kembali masuk ke boiler untuk diproses menjadi superheated steam yang siap memutar turbin.

Jadi di sini terjadi closed-loop system. Air dan uap diolah terus menerus dalam sistem tertutup untuk menggerakkan turbin uap (steam turbine). Meskipun demikian tetap ada air atau uap yang hilang sebagai system loses dalam proses tersebut. Maka selama PLTU beroperasi selalu diperlukan penambahan demin water baru secara kontinyu.

Air yang dipompa masuk kembali ke dalam boiler biasa dikenal dengan nama boiler feedwater. Sistem yang mensuplai feedwater ini terdiri dari beberapa peralatan utama, yaitu :

-  Feedwater pumps
-  Feedwater tank yang dilengkapi dengan deaerator tank
-  Feedwater heaters

Feedwater tank berfungsi untuk menampung feedwater sebelum dipompa masuk ke boiler oleh feedwater pumps. Pada PLTU berkapasitas kecil, pompa feedwater digerakkan oleh motor listrik, sedangkan pada PLTU berkapasitas besar mempergunakan turbin uap mini.

Untuk meningkatkan efisiensi PLTU, sebelum dipompa masuk ke boiler, feedwater harus dipanaskan terlebih dahulu hingga mencapai suhu tertentu. Pemanasan tersebut dilakukan dengan heater (heat exchanger), yang berlangsung secara konduksi dengan memanfaatkan uap panas yang diambil (diektraksi) dari turbin. Jadi selain diteruskan ke condenser, ada sejumlah kecil uap dari turbin yang diambil untuk memanaskan feedwater heater.

 


Trotoar di Singapore : Sangat Nyaman untuk Pejalan Kaki
Beberapa hari lalu saya membaca berita tentang rencana Dinas Pariwisata Jogja untuk menggelar Hogja Heritage Walk 2010 yang akan dipusatkan di Prambanan dan Borobudur. Yang menarik dalam berita tersebut adalah ucapan Kepala Dinas Pariwisata DIY : “Wisata jalan kaki selama ini banyak diminati masyarakat Jepang dan China. Mereka ternyata memiliki rahasia yang selama ini tidak banyak diketahui publik, bahwa dengan memperbanyak jalan kaki, orang tidak hanya memiliki kebugaran tubuh yang prima, tetapi juga kerja otak menjadi aktif.”

Benar sekali, berjalan kaki adalah salah satu kegemaran wisatawan. Bukan hanya wisatawan Jepang dan China, tetapi hampir semua wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Hanya wisatawan dengan tujuan bisnis yang lebih memilih taxi. Saya pernah berbincang dengan beberapa wisatawan Eropa, rata-rata mereka mengatakan bahwa cara yang paling mereka sukai untuk menikmati obyek wisata adalah dengan berjalan kaki.

Maka salah satu cara untuk membuat wisatawan betah tinggal di Yogyakarta adalah dengan membuat Jogja menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Belajar dari Singapore, mereka banyak memiliki trotoar yang cukup lebar dan rindang. Mereka juga mampu membebaskan trotoar-trotoar dari pedagang kaki lima dan parkir kendaraan bermotor. Memang tidak mudah mengubah Jogja menjadi seperti Singapore, tetapi juga bukan suatu hal yang mustahil.

Selain ramah untuk pejalan kaki, Singapore juga dikenal sebagai kota taman.Dengan mudah kita akan menemukan taman-taman kota yang indah dan terawat di seluruh penjuru wilayahnya. Taman merupakan salah satu tempat favorit warga Singapore untuk bersantai dan bersosialisasi. Pemerintah sangat serius mengelola taman-taman tersebut sehingga mereka membentuk badan khusus yang bernama National Parks Board. Mereka juga tidak kalah seriusnya dalam menjual karena menyadari taman dan hutan kota adalah salah satu daya tarik Singapore. Situs resmi mereka di www.nparks.gov.sg memperlihatkan hal tersebut.

Karena jam kantor di Singapore selesai pada pukul 17.00 dan matahari baru terbenam kira-kira pukul 19.00, sering sekali saya meluangkan waktu menjelang senja untuk bersantai dan berolah raga di taman dekat penginapan tempat saya tinggal. Sebelum pukul 18.00 biasanya saya sudah tiba di penginapan, sementara untuk menuju taman terdekat hanya perlu waktu 10 menit berjalan kaki. Sungguh kenikmatan hidup yang masih susah didapatkan di Jogja.

Satu hal lagi yang kelihatannya remeh, tetapi bisa cukup mengganggu kenikmatan berwisata adalah kurangnya fasilitas toilet yang bersih. Satu hal yang cukup umum kita temui di obyek-obyek wisata di Jogja dan sekitarnya adalah repotnya mendapatkan toilet yang nyaman untuk buang air. Sungguh tidak nyaman rasanya menikmati panorama alam atau keindahan kota sambil menahan rasa ingin buang air.

Berkaca dari Singapore, kelihatannya mereka sangat menyadari arti penting kamar kecil ini bagi wisatawan asing. Sangat mudah untuk menem tukan toilet yang terawat baik di negeri Singa tersebut, sekalipun kita sedang berada di taman umum.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan Jogja sebagai kota yang nyaman untuk wisatawan. Tetapi dengan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan seluruh warga, tidak ada hal yang tidak mungkin.

 


Pembakaran pulverized-coal dengan tangential burners yang dipasang pada empat sudut combustion chamber

Coal & combustion system dalam PLTU terdiri dari coal silo, coal feeder, pulverizer, coal pipes dan combustion burner.

dari coal storage batu bara diangkut dengan belt conveyor menuju boiler house dan disimpan di dalam coal silo. Dalam bangunan PLTU, coal silo lokasinya ada di antara boiler house dan Turbine-Generator building.

Untuk menghasilkan pembakaran yang efisien, batu bara yang masuk ruang pembakaran harus digiling terlebih dahulu hingga berbentuk serbuk (pulverized coal). Penggilingan batu bara menjadi serbuk dilakukan pulverizer yang dikenal juga dengan nama bowl-mill. Disebut demikian karena di dalamnya terdapat mangkuk (bowl) tempat batu bara ditumbuk dengan grinder.

Pemasukan batu bara dari coal silo ke pulverizer diatur dengan coal feeder, sehingga jumlah batu bara yang masuk ke pulverizer bisa diatur dari control room.

Batu bara yang sudah digiling menjadi serbuk ditiup dengan udara panas (primary air) dari pulverizer menuju combustion burner melalui pipa-pipa coal piping.

Pada saat start up, pembakaran tidak langsung dilakukan dengan batu bara, tetapi mempergunakan bahan bakar minyak. Baru setelah beban mencapai 10%-15% batu bara pelan-pelan mulai masuk menggantikan minyak. Maka selain coal piping, burner juga terhubung dengan oil pipe, atomizing air dan scavanging air pipe yang berfungsi untuk mensuplai BBM.

Agar pembakaran dalam combustion chamber berlangsung dengan baik perlu didukung dengan sistem suplai udara dan sitem pembuangan gas sisa pembakaran yang baik. Tugas ini dilakukan oleh Air and Flue Gas System.

Air and Flue Gas System terdiri dari Primary Air (PA) Fans, Forced Draft (FD) Fans, Induced Draft (ID) Fans, Air Heater, Primary Air Ducts, Secondary Air Ducts dan Flue Gas Ducts.

Udara yang akan disuplai ke ruang pembakaran dipanaskan terlebih dahulu agar tercapai efisiensi pembakaran yang baik. Pemanasan tersebut dilakukan oleh Air Heater dengan cara konduksi dengan memanfaatkan panas dari gas buang sisa pembakaran di dalam furnace.

Ada 2 type Air Heater yang banyak dipakai di PLTU. Yang pertama air heater type tubular, banyak dipakai di PLTU yang berkapasitas kecil. Sedangkan air heater type rotary lebih dipilih untuk PLTU kapasitas besar.

Primary Air Fans berfungsi untuk menghasilkan primary air yang diperlukan untuk mendorong batu bara serbuk dari pulverizer ke burner. Forced Draft Fans berfungsi untuk menghasilkan secondary air untuk mensuplai udara ke ruang pembakaran. Sedangkan Induced Draft Fans berfungsi untuk menyedot gas sisa pembakaran dari combustion chamber untuk dikeluarkan ke cerobong asap.


Primary & Secondary Air Duct system (warna biru)

Flue Gas system adalah bagian yang sangat penting untuk menjaga agar PLTU tidak menyebabkan polusi berlebihan kepada lingkungan. Bagian dari flue gas system yang umum terdapat di semua PLTU adalah Electrostatic Precipitator (EP).

Electrostatic Precipitator adalah alat penangkap debu batu bara. Sebelum dilepas ke udara bebas, gas buang sisa pembakaran batu bara terlebih dahulu melewati electrostatic precipitator untuk dikurangi semaksimal mungkin kandungan debunya. Bagian utama dari EP ini adalah housing (casing), internal parts yang terdiri dari discharge electrode, collecting plates dan hammering system, dan ash hoppers yang terletak di bagian bawah untuk menampung abu.

Pada beberapa PLTU modern ada lagi satu peralatan pengendali polusi yang terpasang antara EP dan cerobong asap. Alat tersebut adalah Flue Gas Desulphurization (FGD) plant. Sesuai dengan namanya FGD berfungsi untuk mengurangi kadar sulphur dari gas buang. Kadar sulphur yang tinggi dikhawatirkan bisa menyebabkan terjadinya hujan asam yang berbahaya bagi lingkungan.

Bagian terakhir dari flue gas system adalah stack/chimney/cerobong asap yang berfungsi untuk membuang gas sisa pembakaran.

 


Singapore MRT Train – Transportasi yang Nyaman

Faktor kedua yang membuat Singapore begitu nyaman untuk berwisata adalah transportasi umumnya yang sangat maju. Selama dua bulan menjalani penugasan di Singapore, saya benar-benar merasakan nikmatnya transporatsi umum yang dikelola dengan baik. Rasanya begitu nyaman pergi ke segenap penjuru negara pulau tersebut meskipun kendaraan pribadi tidak tersedia. Bus maupun MRT keduanya sama-sama nyaman dan mudah dijangkau dari mana saja. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak banyak menguras isi kantong.

Mungkin tidak pada tempatnya membandingkan transportasi umum di Jogja dan Singapore. Tetapi jika memang menginginkan pariwisata Jogja sebagai industri andalan, mau tidak mau kita harus berusaha mewujudkan sarana transportasi umum yang aman dan nyaman.

Transportasi umum tersebut harus mampu menghubungkan sentra-sentra hunian wisatawan dan obyek-obyek wisata dengan baik. Untuk obyek wisata dalam kota, becak dan andong menjadi pilihan yang sangat menarik bagi wisatawan yang memiliki banyak waktu, tetapi tidak untuk wisatawan yang menginginkan transportasi cepat. Bus kota yang ada sangat jauh dari nyaman. Trans jogja rutenya masih sangat terbatas, sementara sewa taxi atau mobil bukanlah pilihan yang menarik untuk wisatawan.

Obyek wisata luar kota seperti Kasongan, Borobudur, kawasan Pantai Selatan, lereng Merapi atau wisata karst Gunung Kidul juga belum terhubungkan dengan transportasi umum yang nyaman. Transportasi yang cepat dan nyaman dengan harga terjangkau tentu akan merangsang wisatawan untuk mengunjungi lebih banyak tempat. Semakin banyak mengunjungi obyek wisata, semakin panjang masa tinggal mereka di Jogja.

© 2012 kqlima.com Suffusion theme by Sayontan Sinha