“Mungkinkah shalat tahajud akan menjadi lebih ringan bila waktu Indonesia dimajukan 1 jam, sama dengan Singapore ?”

Demikian status yang saya tuliskan di beranda facebook saya.

Bertahun-tahun saya mencoba untuk melaksanakan shalat tahajud pada 1/3 malam terakhir, tetapi selalu saja tidak berhasil. Betapa beratnya bangun jam 3 pagi. Meskipun semua handphone telah dilengkapi alarm yang memungkinkan kita menset 5 waktu alarm yang berbeda, tetap saja saat terbangun yang saya lakukan hanyalah meraih HP, mematikan alarmnya dan kembali ke alam mimpi.

Bahkan hal yang sama pun saya lakukan saat 5 atau 10 menit kemudian alarm ke-2 berbunyi.

Hingga akhirnya muncul imajinasi seperti yang saya tuliskan di awal tulisan ini. Bayangan saya, setiap hari saya tidur pukul 22 dan bangun jam 4 untuk melaksanakan shalat shubuh. Di Jogja adzan shubuh selama satu tahun berkisar kira-kira dari pukul 3.50 hingga 04.30.

Maka seandainya waktu Indonesia dimajukan satu jam dan waktu tidur saya tetap antara pukul 22 dan 4 pagi, maka saya akan punya kesempatan melaksanakan shalat tahajud setiap hari pada 1/3 malam terakhir, karena adzan shubuh akan bergeser menjadi kira-kira jam 4.50 hingga 5.30. Tetapi ini hanya mimpi saya saja akibat terus menerus sukses mematikan alarm setiap hendak bangun jam 3 pagi.

Alhamdulillah Allah swt masih terus memberi saya semangat untuk mencoba dan mencoba lagi. Saya pun search di google dengan kata kunci “tips mudah bangun shalat tahajud” atau yang sejenisnya. Cukup banyak saya temukan di internet anjuran-anjuran yang bisa kita laksanakan agar dimudahkan bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud.

Alhamdulillah setelah beberapa kali mencoba, Allah mengabulkan doa saya dan memberikan karunia yang sangat besar. Sudah 2 minggu ini saya diberi kemudahan untuk bangun kira-kira 1 jam sebelum adzan shubuh dan melaksanakan shalat tahajud.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar Allah swt memudahkan kita untuk bangun pada 1/3 malam terakhir guna melaksanakan shalat tahajud :

1. Niat bangun malam saat menjelang tidur.

2. Tidur paling tidak 6 jam setiap harinya.

3. Usahakan makan malam paling lambat 1 jam sebelum tidur, syukur bisa 1.5 atau 2 jam sebelumnya.

4. Jangan lupa menyalakan alarm untuk 2 atau 3 waktu yang berbeda. Masing-masing dengan selisih 5 menit.

5. Membaca surat An-Nas dan Al-Falaq sesaat sebelum tidur agar terhindar dari godaan syaitan yang menghalangi kita saat hendak bangun malam.

6. Terakhir membaca do’a hendak tidur.

Insya Allah kita akan dimudahkan oleh-Nya untuk bangun malam melaksanakan shalat tahajud.

 


Trotoar di Singapore : Sangat Nyaman untuk Pejalan Kaki
Beberapa hari lalu saya membaca berita tentang rencana Dinas Pariwisata Jogja untuk menggelar Hogja Heritage Walk 2010 yang akan dipusatkan di Prambanan dan Borobudur. Yang menarik dalam berita tersebut adalah ucapan Kepala Dinas Pariwisata DIY : “Wisata jalan kaki selama ini banyak diminati masyarakat Jepang dan China. Mereka ternyata memiliki rahasia yang selama ini tidak banyak diketahui publik, bahwa dengan memperbanyak jalan kaki, orang tidak hanya memiliki kebugaran tubuh yang prima, tetapi juga kerja otak menjadi aktif.”

Benar sekali, berjalan kaki adalah salah satu kegemaran wisatawan. Bukan hanya wisatawan Jepang dan China, tetapi hampir semua wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Hanya wisatawan dengan tujuan bisnis yang lebih memilih taxi. Saya pernah berbincang dengan beberapa wisatawan Eropa, rata-rata mereka mengatakan bahwa cara yang paling mereka sukai untuk menikmati obyek wisata adalah dengan berjalan kaki.

Maka salah satu cara untuk membuat wisatawan betah tinggal di Yogyakarta adalah dengan membuat Jogja menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Belajar dari Singapore, mereka banyak memiliki trotoar yang cukup lebar dan rindang. Mereka juga mampu membebaskan trotoar-trotoar dari pedagang kaki lima dan parkir kendaraan bermotor. Memang tidak mudah mengubah Jogja menjadi seperti Singapore, tetapi juga bukan suatu hal yang mustahil.

Selain ramah untuk pejalan kaki, Singapore juga dikenal sebagai kota taman.Dengan mudah kita akan menemukan taman-taman kota yang indah dan terawat di seluruh penjuru wilayahnya. Taman merupakan salah satu tempat favorit warga Singapore untuk bersantai dan bersosialisasi. Pemerintah sangat serius mengelola taman-taman tersebut sehingga mereka membentuk badan khusus yang bernama National Parks Board. Mereka juga tidak kalah seriusnya dalam menjual karena menyadari taman dan hutan kota adalah salah satu daya tarik Singapore. Situs resmi mereka di www.nparks.gov.sg memperlihatkan hal tersebut.

Karena jam kantor di Singapore selesai pada pukul 17.00 dan matahari baru terbenam kira-kira pukul 19.00, sering sekali saya meluangkan waktu menjelang senja untuk bersantai dan berolah raga di taman dekat penginapan tempat saya tinggal. Sebelum pukul 18.00 biasanya saya sudah tiba di penginapan, sementara untuk menuju taman terdekat hanya perlu waktu 10 menit berjalan kaki. Sungguh kenikmatan hidup yang masih susah didapatkan di Jogja.

Satu hal lagi yang kelihatannya remeh, tetapi bisa cukup mengganggu kenikmatan berwisata adalah kurangnya fasilitas toilet yang bersih. Satu hal yang cukup umum kita temui di obyek-obyek wisata di Jogja dan sekitarnya adalah repotnya mendapatkan toilet yang nyaman untuk buang air. Sungguh tidak nyaman rasanya menikmati panorama alam atau keindahan kota sambil menahan rasa ingin buang air.

Berkaca dari Singapore, kelihatannya mereka sangat menyadari arti penting kamar kecil ini bagi wisatawan asing. Sangat mudah untuk menem tukan toilet yang terawat baik di negeri Singa tersebut, sekalipun kita sedang berada di taman umum.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan Jogja sebagai kota yang nyaman untuk wisatawan. Tetapi dengan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan seluruh warga, tidak ada hal yang tidak mungkin.

 


Singapore MRT Train – Transportasi yang Nyaman

Faktor kedua yang membuat Singapore begitu nyaman untuk berwisata adalah transportasi umumnya yang sangat maju. Selama dua bulan menjalani penugasan di Singapore, saya benar-benar merasakan nikmatnya transporatsi umum yang dikelola dengan baik. Rasanya begitu nyaman pergi ke segenap penjuru negara pulau tersebut meskipun kendaraan pribadi tidak tersedia. Bus maupun MRT keduanya sama-sama nyaman dan mudah dijangkau dari mana saja. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak banyak menguras isi kantong.

Mungkin tidak pada tempatnya membandingkan transportasi umum di Jogja dan Singapore. Tetapi jika memang menginginkan pariwisata Jogja sebagai industri andalan, mau tidak mau kita harus berusaha mewujudkan sarana transportasi umum yang aman dan nyaman.

Transportasi umum tersebut harus mampu menghubungkan sentra-sentra hunian wisatawan dan obyek-obyek wisata dengan baik. Untuk obyek wisata dalam kota, becak dan andong menjadi pilihan yang sangat menarik bagi wisatawan yang memiliki banyak waktu, tetapi tidak untuk wisatawan yang menginginkan transportasi cepat. Bus kota yang ada sangat jauh dari nyaman. Trans jogja rutenya masih sangat terbatas, sementara sewa taxi atau mobil bukanlah pilihan yang menarik untuk wisatawan.

Obyek wisata luar kota seperti Kasongan, Borobudur, kawasan Pantai Selatan, lereng Merapi atau wisata karst Gunung Kidul juga belum terhubungkan dengan transportasi umum yang nyaman. Transportasi yang cepat dan nyaman dengan harga terjangkau tentu akan merangsang wisatawan untuk mengunjungi lebih banyak tempat. Semakin banyak mengunjungi obyek wisata, semakin panjang masa tinggal mereka di Jogja.

 

Jogja memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi kota tujuan wisata yang unggul. Banyak obyek wisata dengan variasi yang cukup beragam ada di Yogyakarta. Event seni dan budaya juga kerap kali diselenggarakan. Penerbangan langsung dari Singapore dan Kuala Lumpur juga terbukti mampu membantu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Hanya saja pencapaian yang telah diraih masih jauh dari harapan, terutama untuk kunjungan wisatawan asing. Selain jumlahnya yang belum mencapai target, lama mereka tinggal di Jogja pun juga terlalu singkat.

Beberapa tahun lalu, karena bekerja di perusahaan yang memiliki kantor di Singapore, saya sering mendapatkan tugas ke negeri Singa tersebut.

Meskipun luas Singapore kira-kira hanya seperempat luas wilayah propinsi DIY, tetapi kemajuan ekonominya sungguh mengagumkan. Semua itu dicapai berkat industri jasa dan pariwisata yang sangat manju. Saya akan coba membandingkan hal-hal sangat mendasar yang membuat pariwisata Singapore jauh lebih maju dibandingkan Jogjakarta, atau bahkan Indonesia secara umum.

Yang pertama adalah ketersediaan informasi wisata. Begitu mendarat di bandara Changi dengan mudah kita akan mendapatkan brosur-brosur dari semua tujuan wisata di negara pulau tersebut. Semua brosur dibuat dengan kualitas sangat bagus dan profesional. Bahkan peta umum Singapore yang tersedia gratis pun tidak kalah kualitasnya dengan yang dijual di toko.

Brosur-brosur tujuan wisata dengan mudah juga bisa kita dapatkan di semua hotel besar maupun kecil. Dalam brosur tersebut juga selalu dicantumkan rute bus atau MRT yang bisa ditumpangi untuk menuju suatu obyek wisata.

Bandingkan dengan Jogja. Brosur informasi tentang obyek-obyek wisata sangat minim sekali, baik di bandara, stasiun maupun hotel-hotel. Mungkin saja wisatawan yang sudah berada di Jogjakarta telah mengetahui obyek-obyek wisata yang akan mereka kunjungi. Kemajuan internet memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi dengan lebih mudah. Tetapi saya tetap yakin ketersediaan brosur-brosur informasi wisata yang berkualitas dan profesional akan memberikan kesan ramah dan melayani kepada para wisatawan. Dengan keramahan dan pelayanan ini tentu mereka lebih betah tinggal di Jogja.

Brosur juga akan memberikan informasi lebih banyak tentang berbagai obyek wisata Jogja. Sangat mungkin wisatawan memperpanjang kunjungannya karena tertarik mengunjungi obyek yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

© 2012 kqlima.com Suffusion theme by Sayontan Sinha