Trotoar di Singapore : Sangat Nyaman untuk Pejalan Kaki
Beberapa hari lalu saya membaca berita tentang rencana Dinas Pariwisata Jogja untuk menggelar Hogja Heritage Walk 2010 yang akan dipusatkan di Prambanan dan Borobudur. Yang menarik dalam berita tersebut adalah ucapan Kepala Dinas Pariwisata DIY : “Wisata jalan kaki selama ini banyak diminati masyarakat Jepang dan China. Mereka ternyata memiliki rahasia yang selama ini tidak banyak diketahui publik, bahwa dengan memperbanyak jalan kaki, orang tidak hanya memiliki kebugaran tubuh yang prima, tetapi juga kerja otak menjadi aktif.”

Benar sekali, berjalan kaki adalah salah satu kegemaran wisatawan. Bukan hanya wisatawan Jepang dan China, tetapi hampir semua wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Hanya wisatawan dengan tujuan bisnis yang lebih memilih taxi. Saya pernah berbincang dengan beberapa wisatawan Eropa, rata-rata mereka mengatakan bahwa cara yang paling mereka sukai untuk menikmati obyek wisata adalah dengan berjalan kaki.

Maka salah satu cara untuk membuat wisatawan betah tinggal di Yogyakarta adalah dengan membuat Jogja menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Belajar dari Singapore, mereka banyak memiliki trotoar yang cukup lebar dan rindang. Mereka juga mampu membebaskan trotoar-trotoar dari pedagang kaki lima dan parkir kendaraan bermotor. Memang tidak mudah mengubah Jogja menjadi seperti Singapore, tetapi juga bukan suatu hal yang mustahil.

Selain ramah untuk pejalan kaki, Singapore juga dikenal sebagai kota taman.Dengan mudah kita akan menemukan taman-taman kota yang indah dan terawat di seluruh penjuru wilayahnya. Taman merupakan salah satu tempat favorit warga Singapore untuk bersantai dan bersosialisasi. Pemerintah sangat serius mengelola taman-taman tersebut sehingga mereka membentuk badan khusus yang bernama National Parks Board. Mereka juga tidak kalah seriusnya dalam menjual karena menyadari taman dan hutan kota adalah salah satu daya tarik Singapore. Situs resmi mereka di www.nparks.gov.sg memperlihatkan hal tersebut.

Karena jam kantor di Singapore selesai pada pukul 17.00 dan matahari baru terbenam kira-kira pukul 19.00, sering sekali saya meluangkan waktu menjelang senja untuk bersantai dan berolah raga di taman dekat penginapan tempat saya tinggal. Sebelum pukul 18.00 biasanya saya sudah tiba di penginapan, sementara untuk menuju taman terdekat hanya perlu waktu 10 menit berjalan kaki. Sungguh kenikmatan hidup yang masih susah didapatkan di Jogja.

Satu hal lagi yang kelihatannya remeh, tetapi bisa cukup mengganggu kenikmatan berwisata adalah kurangnya fasilitas toilet yang bersih. Satu hal yang cukup umum kita temui di obyek-obyek wisata di Jogja dan sekitarnya adalah repotnya mendapatkan toilet yang nyaman untuk buang air. Sungguh tidak nyaman rasanya menikmati panorama alam atau keindahan kota sambil menahan rasa ingin buang air.

Berkaca dari Singapore, kelihatannya mereka sangat menyadari arti penting kamar kecil ini bagi wisatawan asing. Sangat mudah untuk menem tukan toilet yang terawat baik di negeri Singa tersebut, sekalipun kita sedang berada di taman umum.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan Jogja sebagai kota yang nyaman untuk wisatawan. Tetapi dengan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan seluruh warga, tidak ada hal yang tidak mungkin.

 Leave a Reply

(required)

(required)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

   
© 2012 kqlima.com Suffusion theme by Sayontan Sinha