Singapore MRT Train – Transportasi yang Nyaman

Faktor kedua yang membuat Singapore begitu nyaman untuk berwisata adalah transportasi umumnya yang sangat maju. Selama dua bulan menjalani penugasan di Singapore, saya benar-benar merasakan nikmatnya transporatsi umum yang dikelola dengan baik. Rasanya begitu nyaman pergi ke segenap penjuru negara pulau tersebut meskipun kendaraan pribadi tidak tersedia. Bus maupun MRT keduanya sama-sama nyaman dan mudah dijangkau dari mana saja. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak banyak menguras isi kantong.

Mungkin tidak pada tempatnya membandingkan transportasi umum di Jogja dan Singapore. Tetapi jika memang menginginkan pariwisata Jogja sebagai industri andalan, mau tidak mau kita harus berusaha mewujudkan sarana transportasi umum yang aman dan nyaman.

Transportasi umum tersebut harus mampu menghubungkan sentra-sentra hunian wisatawan dan obyek-obyek wisata dengan baik. Untuk obyek wisata dalam kota, becak dan andong menjadi pilihan yang sangat menarik bagi wisatawan yang memiliki banyak waktu, tetapi tidak untuk wisatawan yang menginginkan transportasi cepat. Bus kota yang ada sangat jauh dari nyaman. Trans jogja rutenya masih sangat terbatas, sementara sewa taxi atau mobil bukanlah pilihan yang menarik untuk wisatawan.

Obyek wisata luar kota seperti Kasongan, Borobudur, kawasan Pantai Selatan, lereng Merapi atau wisata karst Gunung Kidul juga belum terhubungkan dengan transportasi umum yang nyaman. Transportasi yang cepat dan nyaman dengan harga terjangkau tentu akan merangsang wisatawan untuk mengunjungi lebih banyak tempat. Semakin banyak mengunjungi obyek wisata, semakin panjang masa tinggal mereka di Jogja.

 

Jogja memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi kota tujuan wisata yang unggul. Banyak obyek wisata dengan variasi yang cukup beragam ada di Yogyakarta. Event seni dan budaya juga kerap kali diselenggarakan. Penerbangan langsung dari Singapore dan Kuala Lumpur juga terbukti mampu membantu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Hanya saja pencapaian yang telah diraih masih jauh dari harapan, terutama untuk kunjungan wisatawan asing. Selain jumlahnya yang belum mencapai target, lama mereka tinggal di Jogja pun juga terlalu singkat.

Beberapa tahun lalu, karena bekerja di perusahaan yang memiliki kantor di Singapore, saya sering mendapatkan tugas ke negeri Singa tersebut.

Meskipun luas Singapore kira-kira hanya seperempat luas wilayah propinsi DIY, tetapi kemajuan ekonominya sungguh mengagumkan. Semua itu dicapai berkat industri jasa dan pariwisata yang sangat manju. Saya akan coba membandingkan hal-hal sangat mendasar yang membuat pariwisata Singapore jauh lebih maju dibandingkan Jogjakarta, atau bahkan Indonesia secara umum.

Yang pertama adalah ketersediaan informasi wisata. Begitu mendarat di bandara Changi dengan mudah kita akan mendapatkan brosur-brosur dari semua tujuan wisata di negara pulau tersebut. Semua brosur dibuat dengan kualitas sangat bagus dan profesional. Bahkan peta umum Singapore yang tersedia gratis pun tidak kalah kualitasnya dengan yang dijual di toko.

Brosur-brosur tujuan wisata dengan mudah juga bisa kita dapatkan di semua hotel besar maupun kecil. Dalam brosur tersebut juga selalu dicantumkan rute bus atau MRT yang bisa ditumpangi untuk menuju suatu obyek wisata.

Bandingkan dengan Jogja. Brosur informasi tentang obyek-obyek wisata sangat minim sekali, baik di bandara, stasiun maupun hotel-hotel. Mungkin saja wisatawan yang sudah berada di Jogjakarta telah mengetahui obyek-obyek wisata yang akan mereka kunjungi. Kemajuan internet memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi dengan lebih mudah. Tetapi saya tetap yakin ketersediaan brosur-brosur informasi wisata yang berkualitas dan profesional akan memberikan kesan ramah dan melayani kepada para wisatawan. Dengan keramahan dan pelayanan ini tentu mereka lebih betah tinggal di Jogja.

Brosur juga akan memberikan informasi lebih banyak tentang berbagai obyek wisata Jogja. Sangat mungkin wisatawan memperpanjang kunjungannya karena tertarik mengunjungi obyek yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

© 2012 kqlima.com Suffusion theme by Sayontan Sinha